4 Filosofi Pribadi Muslim

Buahpeer.com - Telah banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an maupun di dalam hadits yang berisi perumpamaan-perumpamaan tentang kehidupan. Perumpamaan yang disebutkan di dalam kedua rujukan tersebut tak lain agar umat manusia dapat merenungi, merefleksikan diri, dan agar menjadi lebih gamblang dengan ajaran-ajaran agama, sehingga dapat berfikir dan menerima kebenaran yang datangnya dari Allah dan rasul.

Pun demikian tentang kepribadian yang mulia dari seorang muslim, Allah melalui rasul telah banyak memberikan perumpamaan-perumpamaan agar dapat dijadikan filosofi dalam hidupnya. Seperti apa saja perumpamaan yang Allah dan rasul gambarkan tentang mulianya pribadi seorang muslim? Mari kita simak:

1. Filosofi pribadi mulia yang baik aroma dan rasanya
Anda pernah mendengar buah utrujah? Nama buah ini pernah tersebut sebagai perumpamaan bagi mukmin yang senang berinteraksi dengan Kalam Allah (Al-Qur’an). Sebagaimana hadits rasulullah,
“Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya bagaikan buah utrujah, yang enak baik rasa maupun aromanya.” (HR Bukhari)



Utrujah mirip dengan limun, meski berbeda dari sisi rasanya. Buah dengan nama ilmiah Citrus medica ini memiliki banyak keunggulan seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathur Bari, “kulit bijinya berwarna putih selaras dengan hati seorang mukmin. Bentuknya besar, elok performanya, menarik warnanya, dan lembut sentuhannya. Bila dimakan terasa lezat, sedap aromanya, mudah dikunyah, serta dapat membersihkan lambung. Dan masih banyak manfaat lainnya.”

Pribadi seorang muslim pecinta Al-Qur’an, semestinya seperti buah utrujah. Pribadinya elok, tutur katanya santun sesantun perkataan dalam Al-Qur’an, hatinya bersih dari kedengkian dan keburukan karena hatinya senantiasa bersanding dan disucikan dengan isi kandungan Al-Qur’an, hingga semua orang dapat mengambil manfaat darinya yang selalu mendapat kebermanfaatan dan barakah dari Al-Qur’an. Buah utrujah, perumpamaan yang tepat bagi penyandang Al-Qur’an.

2. Pribadi indah seperti lebah
“Demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin itu seperti lebah. Ia makan yang baik-baik, mengeluarkan sesuatu yang baik, hinggap di tempat yang baik, dan tidak mematahkan (yang dihinggapinya) dan tidak merusaknya.” (HR Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazaar)


Perumpamaan yang sudah sangat familiar kita baca atau pun kita dengar. Namun, seberapa besar familiar kita menerapkan isi hadits tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Nampaknya, kita perlu menilik sekali lagi agar yang tadinya lupa menjadi ingat, yang awalnya hanya sekilas terdengar menjadi tertampar lembut sebagai refleksi hidup.

“Ia makan yang baik-baik,” Seorang mukmin adalah pribadi yang “pilih-pilih”, hanya makanan yang halal lagi thayyib-lah yang ia izinkan masuk ke dalam tubuhnya. Memilih makanan bukan karena sedang mengikuti trend yang sedang berlaku saat itu. Namun, memilih makanan adalah hal yang prinsipil bagi seorang muslim sebagaimana perintah Allah, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu,” (Q.S Al-Baqarah:172). Memilih makanan yang halal lagi baik adalah perintah Allah, sehingga masuk dalam ranah yang bersifat prinsipil.

Makan memiliki arti memasukkan sesuatu ke dalam tubuh. Maka, tidak hanya memasukkan makanan sebagai nutrisi bagi tubuhnya, mukmin juga akan mendengar dan “memasukkan” perkataan yang baik bagi telinganya, serta melihat dan “memasukkan” segala “gambar” yang baik bagi penglihatannya.
“...hinggap di tempat yang baik,” Lebah tidak menghabiskan waktunya untuk berada di lingkungan yang buruk. Begitu juga dengan seorang mukmin, hanya memilih tempat yang baik untuknya tinggal dan bergaul.

“...dan tidak mematahkan (yang dihinggapinya) dan tidak merusaknya.” Prinsip hidup lebah ialah tidak menjadi perusak bagi lingkungan. Justru ia akan merawat dan menjaga lingkungan sekitar. Minimal, jika tidak dapat memberi manfaat, seorang mukmin semestinya tidak memberi keburukan pada orang-orang maupun lingkungan sekitar.

Maka, lebah adalah perumpamaan yang tepat bagi seorang mukmin. Saat ia memakan dan memasukkan segala sesuatu ke dalam tubuh dengan hal yang baik-baik, maka yang dihasilkannya pun juga sesuatu yang baik dan berfaedah. Seperti lebah, setelah memakan sari bunga, yang ia hasilkan ialah madu, sesuatu yang baik dan bermanfaat. Seperti lebah juga yang menjaga lingkungannya, seorang mukmin tidak berkerumun di tempat-tempat maksiat. Pun, mukmin dengan filosofi lebah, akan memberikan hal-hal yang bermanfaat, minimal tidak merugikan dan merusak. Filosofi mukmin bukan seperti lalat, yang mengkonsumsi sesuatu yang kotor dan berkerumun di tempat yang jorok, yang akhirnya hanya menimbulkan bibit penyakit. Wallahu a’alam. 

(bersambung insyaa Allah)

  4Filosofi Pribadi Muslim (Bagian 2)


Oleh : Mia Kusmias
Editor : M. Galih


Friends Added
Reaksi:
Berikan Reaksimu Tentang Artikel di Atas Dengan Men-Checklist Reaksi Ini

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »