Maher Zain, Tokoh Pemersatu Muslim di Dunia

Oleh :Dania Syafa'at
Adakah diantara remaja muslim Indonesia saat ini yang tidak mengenal sosok Maher Zain? Mungkin namanya tidak hanya terdengar di kalangan remaja, bahkan dari anak kecil hingga orang tua di beberapa negara belahan dunia pasti mengenalnya bahkan pernah mendengarkan lagu-lagunya walaupun hanya sekali. Dengan suara yang indah nan khas serta diiringi musik gaya timur tengah menambah gairah untuk berlama lama mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikannya. Sudah kenalkah kita dengan sosok pelantun Maher Zain ???

Maher, memiliki nama lengkap Maher Mustafa Maher Zain. Maher adalah penyanyi yang berkewarganegaraan Swedia. Walaupun berasal dari Eropa, ternyata ia memiliki darah Lebanon karena ia sendiri lahir di kota Tripoli pada tanggal 16 Juli 1981. Usut punya usut ternyata Maher memiliki gelar sarjana, namun gelar yang ia sandang bukanlah berasal dari akademi kesenian, melainkan dari Aeronautical Engineering alias dia adalah seorang Insinyur teknik penerbangan. Awal mulanya Maher memasuki dunia tarik suara pada tahun 2005. Maher masuk ke dapur rekaman seorang produser milik Nadir Khayat (Red One) di Swedia. Setelah itu, Maher terbang ke negeri Paman Sam untuk menjajal karir disana dan berkerja sama dengan penyanyi R&B , Kat DeLuna. Hingga akhirnya Maher pun terpikat masuk ke Awakening Record, perusahaan musik religi di kota London, Inggris. Dan pada tanggal 1 November 2009 ia meluncurkan album perdananya yang dinamai Thank You Allah.

Mengenai lagu-lagu yang dinyayikannya, Maher banyak menulis lagu-lagunya sendiri dan bahkan mengaransemennya. Untuk lirik lagu-lagunya pun ia banyak menggunakan berbagai bahasa yang ada di dunia. Bahasa yang sering digunakan dalam lagu –lagunya seperti ; bahasa Inggris, Arab, Turki , Perancis, Melayu , Urdu dan bahkan bahasa tercinta kita, Bahasa Indonesia. Dari lagunya yang diterjemahkan keberbagai bahasa di Dunia, maka tak luput Maher Zain menjadi idola semua kalangan, terutama dikalangan remaja dan Maher Zain juga dapat dikatakan sebagai salah satu tokoh pemersatu umat Islam di Dunia.

Pada masa sebelum Muhammad diutus sebagai rasul, dunia berlalu dengan diwarnai berbagai kerusakan, dominasi kedzaliman dan tenggelam dalam kesesatan kesesatan. Kedzaliman politik dimana banyak hak-hak manusiawi diabaikan terutama oleh kalangan yang memonopoli kekuasaan. Adanya hegemoni kelas sosial antara kelas atas dan kelas bawah membuat makin carutnya dunia kala itu. Ditambah dengan penganut paganisme yang kuat sehingga membutakan mata hati masyarakat pada masa silam. Hingga akhirnya Allah SWT mengutus seseorang untuk memberantas kedzaliman-kedzaliman yang ada dengan mengangkat seseorang yang memiliki nasab/keturunan yang paling tinggi serta terhormat dari klan paling agung di Arab, Quraisy. Ialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ibunda beliau bernama Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf. Ayah beliau wafat ketika berdagang bersama rombongan Quraisy ke Syam. Pada saat itu usia beliau baru dua bulan di dalam kandungan ibundanya. Ketika menginjak dewasa, beliau bekerja sebagai pedangang dan dengan watak kejujurannya beliau terkenal dikalangan pedagang dan kabilah Quraisy sebagai ‘Al-Amin ‘. Atas keelokan perangainya, seorang konglomerat wanita terkesima dan berkeinginan untuk menikahinya. Dan Khadijah, sang miliyarder kala itu dinikahi olehnya pada saat usia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. 

Hingga saat penerimaan wahyu pertama kalinya di Gua Hira dengan surat Al-Alaq ayat 1 – 5 dan dilanjutkan dengan surat Al-Mudatstsir ayat 1 – 4 serta Asy-Syu’ara ayat 214 dan ribuan ayat lainnya menandakan bahwa telah diutusnya seorang pembawa perubahan besar dunia, pembawa kabar berita, pembawa kebaikan dan penyebar wahyu wahyu Allah SWT. Dengan segala perjuangan serta pengorbananya. Beliau mengorbankan seluruh jiwa, raga dan hartanya untuk menegakan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.  Mengenai wahyu yang diberikan Allah SWT kepadanya yang berupa Al-Qur’an, Quraish Shihab mengatakan bahwa bahasa yang terkandung di dalam Al-Qur’an begitu mempesona, redaksinya begitu teliti dan mutiara pesan-pesannya begitu agung dan mengantar kalbu masyarakat yang ditemuinya berdecak kagum walaupun nalar mereka berkeinginan untuk menolaknya. Gaya bahasa Al-Qur’an yang bernilai seni terletak pada pola nya yang sangat halus, penuh dengan sastra seperti majaz, metafora dan perumpamaan atau analogi. Selain itu redaksinya pun sedemikian berpola dan berirama hingga membuat hati pendengarnya tergugah.  Selain itu Al-Qur-an memiliki keselarasan lafadz serta makna kalimat yang khas membuat Al-Qur’an menjadi sempurna dari seluruh aspek.
    Seperti kisah salah satu Khulafaur-rasidin Umar bin Khatab RA yang sebelumnya seorang kafir mendadak mengakui kebenaran Islam hanya dengan sentuhan keindahan ayat AL-Qur’an. Sayyidina Umar yang saat itu dengan keadaan marah hendak membunuh Rasulullah . Namun seketika itu ia bertemu dengan Nuaim bin Abdullah dan ia memberitahu Umar jika sudaranya, Fathimah dan suaminya Said bin Zaid telah masuk Islam. Mendengar itu makin marahlah Umar dan segeralah ia bergegas ke rumah adiknya. Saat di rumah adiknya, Umar mendapati adiknya tengah membaca Al-Qur’an dan iapun meminta adiknya untuk membacakannya Ayat Al-Qur’an yakni surat Thaha ayat 14. Begitu ia membacanya saat itu ia bersegera bertemu Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Kisah diatas membuktikan bahwa sebegitu hebatnya keseluruhan aspek yang ada didalam Al-Qur’an hingga dari ayatnyapun bisa menyayat hati seseorang, bahkan seseorang yang terkenal dengan watak yang kasar dan keras seperti Sayyidina Umar RA.
    
Berangkat dari sejarah Al-Qur’an dan Islam tadi dapat kita tarik satu garis bahwa masyarakat Jahiliyah pada masa silam yang penuh dengan kebobrokan dapat berubah menjadi beradab dan tertata dengan diutusnya Rasulullah sang pembawa misi Al-Qur'an. Masyarakat Arab yang terkenal dengan perangainya yang rusak masih menjunjung tinggi nilai – nilai seni yang ada. Penghargaan atas syair, sajak dan prosa membuat eksistensi seni semakin kuat.
    
Garis kedua yang akan ditarik adalah melihat dari realitas masyarakat sekarang yang sudah mulai rusak moral dan akhlaknya. Orang- orang sudah tidak takut lagi melakukan kejahatan baik korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, penipuan dan kejahatan lainnya. Dapat dikatakan masa kini adalah kembalinya masa jahiliyah.  Namun yang menjadi sangat prihatin adalah takkan ada Nabi atau Rasul yang akan memperbaiki kondisi kerusakan saat ini karena Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir sekaligus Khatam al-Anbiya.  Hanya diri kita yang berbekal Al-Qur’an, hadits serta hati nurani kitalah yang sanggup memerangi kedzaliman ini. Sesorang yang ingin bertahan terhadap degradasi moral haruslah kuat dari ketiga segi itu. Bekal spiritual merupakan bekal yang pas dan penting dalam berjuang menegakan moralitas di muka bumi ini. Mungkin tidak cukuplah jika beban penegakan kebaikan di muka bumi ini digenggam oleh seorang saja. Perlu adanya ukhuwah atau jalinan antara orang  perorang untuk bisa berjuang dengan sempurna. Namun kenyataanya, ikatan persatuan umat Islam saat inipun banyak mengalami kegoyahan. Sikap intoleransi diantara pluralism menyebabkan banyak konflik bermunculan bahkan ke sesame umat Islam itu sendiri.
    
Dengan hadirnya Maher Zain, sang penyanyi bernuansa Islam dapat menyatukan Umat Islam yang ada di dunia. Lagu-lagunya yang dinyanyikan ke dalam berbagai bahasa menyebabkan mudah dipahami dan direnungi terutama jika berkaitan dengan Allah dan Rasulullah SAW. Jika seorang muslim mendengarkan lagu tersebut dan jiwanya tergerak, maka ia akan mencoba menerapkan apa yang ia dengar dalam lagunya. Ini bukan berati lagu Maher Zain adalah suci dan dijadikan pedoman karena liriknya sendiri dibuat oleh Maher dengan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasarnya. Bayangkan jika Maher menyanyikan satu lagu bertemakan ketauhidan dan kecintaan kepada Allah dan dia menyanyikan ke beberapa bahasa sepeti Inggris, Perancis, Arab, Urdu ,Melayu dan bahkan Indonesia, berapa banyak muslim yang akan tergerak hatinya?.
  
Perkembangan perdaban menjadikan orang-orang tidak banyak terkesan dengan pidato-pidato atau ceramah-ceramah dari seorang Ulama’ atau cendikiawan. Mereka lebih senang mendengar hal-hal yang berbau seni seperti syair dan musik. Hal ini serupa terjadi pada masa jahiliyah kafir Quraiysy yang begitu mengagungkan seni.  Maka setelah kita tarik kedua garis yang ada diatas dapat diambil maknanya jika media seni dapat dijadikan alternative dalam metode berdakwah. Tidak semua jenis seni pun yang bisa diambil untuk dijadikan sarana. Hanya seni yang tidak bertentangan dengan syariat Islamlah yang patut dijadikan sarana dakwah. Semoga dengan ini keimanan kita semakin bertambah, Wallahuallam bissawab
   
Sumber: https://en.m.wikipedia.org/MaherZain
Prof Dr Muh Rawwas Qol’ahji, Sirah Nabawiyah (Mengungkap Maksud Politis Perilaku rasulullah SAW ) . penerbit Al-Izzah: 1996
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Pesan , Kesan dan Keserasian Al-Qur’an) penerbit Lentera Hati: 2000
Reaksi:
Berikan Reaksimu Tentang Artikel di Atas Dengan Men-Checklist Reaksi Ini

Share this

Related Posts

First

1 komentar:

komentar