Dipulangkan dari Hongkong

Dipulangkan dari Hongkong

Kembali membaca ayat yang tersirat  ustadzuna Al Mukarrom Abdul Shomad, Lc, saya teringat kejadian Lee Kuan Yew yang pernah mengatakan Indonesia adalah salah satu sarang Teroris, 

Sekonyong-konyongnya berbagai kalangan menggeliat seketika tidak rela. Muali wakil Presiden, bekas Presiden, menteri, politisi di DPR, opini media massa menanggapinya, dengan penuh semangat. Tanggapan umumnya senada seirama, Lee bicara tanpa fakta yang jelas, tunjukkan buktinya, tidak paham demokrasi, negara tetangga yang oportunistis. 

Lee memang kaki tangan Amerika Serikat (AS) Sejak lahirnya di Singapura.  Tanggapan-tanggapan itu ada benarnya. Singapura memang Cerdik memanfaatkan peluang pergeseran Geo-politik Internasional. Barangkali, singapura punya berbagai agenda domestik dibalik terperosotnya Indonesia dalam daftar hitam fasilitator teroris yang dibuat sepihak oleh defense Establishment di AS. Atau, barangkali karena yang lainnya. 

Tentu semua ada alasannya, namun kejadian ini bukan yang pertama yang perlu kita ingat biar kita tidak lupa, dahulu Deputi Menteri Pertahanan AS Paul Wolfowitz Melontarkan yang juga menyudutkan Indonesia. Lalu Harusnya muncul sebuah Pertanyaan pernyataan besar yang mengusik diri kita, kenapa negara kita sering jadi bualan-bualan Pemimpin Negara lain. 

Mengapa politisi Asing berani menuding indonesia dengan beragam tudingan?? Tuduhan??? 


Jawaban sederhananya adalah mereka punya agenda rahasia dibalik itu semua, adakah yang salah apabila mereka punya agenda?

Bukankah wajar-wajar saja, sebagai Bangsa, kelompok, partai, punya agenda masing-masing. Dan harusnya kita kembali bertanya pada diri kita apakah yang bisa kita lakukan terhadap agenda-agenda mereka? 

Mengutuk atau menyatakan sikap kekecewaan kutukan, kecaman, hanya bisa memuaskan panas hati, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Mengapa???? Karena kita harus betul-betul sadar pernyataan yang menyodok dan memojokkan indonesia itu semua bermuka dari dalam negeri, di jantung indonesia, bukan Luar negeri. 

Lee Sebagai politisi Rasional yang mengambil langkah politis secara strategis dan Kalkulatif  dia sedang sadar tidak berhadapan dengan bangsa yang berwibawa secara ekonomi, politik, militer. Sebaliknya, dia sedang berhadapan dengan negeri yang morat-marit. Ketika saya kemalaysia ada sebuah media massa milik negeri jiran yang meliput Setnov sang Panglima DPR RI, dihalaman paling depan aku merasa malu dan tersayap-sayap semoga tidak berlebihan, 

Ambil contoh lagi kebijakan memulangkan TKI dari malaysia, mengapa harus khawatir dengan reakdi  indonesia, wong para pemimpin di indonesia sendiri tidak peduli dengan Rakyatnya?? 

Inilah sumber masalah negara, bangsa, dan pimpinannya. Telah kehilangan kewibawaan sebagai bangsa  di mata internasional. 

Rakyat Indonesia dan para pemimpinnya tidak lagi di segani, bahkan oleh tetangga dekatnya. Jadi jangan marah-marah kepada mereka-mereka yang membuat statement sinis. Bercerminlah para pemimpin dan rakyat Indoensua dimata internasional bangsa ini telah kehilangan kewibawaan! 

Lihatlah potret para pemimpin indonesia dan rakyatnya. Hari ini menyerukan pemerintah bebas korupsi, tahun berikutnya menetukan pejaba berdasarkan setoran uang partainya. Menyerukan transparansi, besok  menolak menyerukan laporan kekayaanya. Dll dsb.

Kini giliran bangsa kita menentukan sikap, akan terus menuding balik, dan hanya menyecam? Secara reaktif. Atau akan introspeksi dan melakukan perubahan kolektif secara serius, mari kita songsong 2018 dengan harapan-harapan besar yang mencerahkan, harus kita rebut. Alquran mengajarkan sikap Optimisme dan pantang Putus asa. 

Ingatlah Bangsa Kita Bangsa Yang Besar. Mari kita jaga, rawat dan Bangun dengan segenap jiwa dan raga tumpah darah. Berjuanglah terus garudaku. Negeriku tercinta. Bahkan penulis bermimpi agar waraga indonesia menjadi Khalifah Fil Ard. Tidak hanya untuk negerinya tapi bisa menjadi Sekjen PBB. Kalau perlu Ketua PBB memainkan peran internasional Global dunia  sebagai pengaman dunia dan risalah perdamain untuk alam semesta.


Oleh Ahmad Zia Khakim, S.H.
Reaksi:
Berikan Reaksimu Tentang Artikel di Atas Dengan Men-Checklist Reaksi Ini

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »