Kantin Persatuan dan Perdamaian


Oleh: Ahmad zia Khakim (Abdi Revolusi)

Sungguh mungkin mustahil melakukan persatuan dilingkungan gerakan mahasiswa. Kepentingan, lagi-agi kepentingan golongan selalu menjadi kepentiangan sesaat dan kepentiangan picisan yang semu tidak bernafas kebersamaan dan kemaslahatan sepenuhnya.

Tentu ada yang diuntungkan beberapa pihak saja.

Sejak dalam pikiranpun kita sudah tidak adil, apalagi dalam tindakan. tentu ini berat. Entah sampai kapan gerakan mahasiswa akan terus usang dan kehilangan arah, spirit mengubah, semangat revolusioner hilang ditelan gadget.

Semangat mendobrak kejumudan seolah tidak nampak. Mereka sibuk menjadi IO dan sibuk melakoni kepentingan perut sesaat. Entah dimana idealisme mereka digadaikan.

"Masa depan bangsa ditangan anak muda", nampaknya redaksi ini harus segera dirubah, "masa depan bangsa berada ditangan para ulama", karna yang selalu tampil oposisi terhadap perilaku keparat aparat hanyalah mereka para ulama. Mahasiswa nampaknya sedang mengalami buta, tuli, sibuk dengan urusan recehan tak bermutu, menulis menggugatpun tak sanggup entah kemana kalian mahasiswa.

Aku hanyalah mahasiswa yang barang tentu ikut sibuk mengurus hal-hal recehan dan picisan. Umat menanti aku pun tak peduli. Umat berteriak aku pun sibuk dengan romantisme kekinian dalam berjuang. Aku hanya sebatas takut masuk dalam barisan para penghianat intelektual yang alpa tupoksi, lupa jati dirinya sebagai pemberontak dan pembela kebenaran, penegak keadilan.

Memang semu dan utopis.

Merdeka yang sebenar-benarnya merdeka, belom kita rasakan sepenuhnya bahkan masih amat jauh. Tentu ini PR kita bersama bukan hanya golongan ataupun sekelompok, mengurai berbagai persoalan kebangsaan, mengurai berbagai problematika kebangsaan, bukan hanya dengan duduk dan berpangku tangan. Ayok kita bangkit melawan kebodohan, bangkit melawan kemiskinan, bangkit melawan ketidak adilan, bangkit melawan ekxploitasi, bangkit melawan segala kesewenang-wenangan dan kebiadaban, bagkit melawan penindasan wajah baru nan halus.

Wahai mahasiswa! apakah nalar kritis kalian sudah mati? Terkubur karna kepentingan akademik, nalar sehat tidak hadir  karna sibuk urus pribadi mereka sendiri-sendiri. Fakta aktivis muslimpun, yang ku jumpai ngajipun tidak becus, hancur-hancuran, aktivis abal-abal makin meraja lela, seperti yang menulispun sebenarnya masih sangat amat jauh dari kata sempurna, tapi tak apa minimal aku berteriak ditengah senyap sunyinya keresahan para akedemik kampusan.

sungguh miris–miris, bila tak tumbuh keresahan dinegeri ini.

Wahai aparat apabila kalian salah olah, salah menangani negeri ini, maka mustahil akan bubar Negara ini,  negara yang  tak seideal yang kita cita-citakan, berhati-hatilah dalam mengolah seluruh kekayaan yang ada dinegeri ini, sekali kau sakiti kami akan berteriak lantang dan melakukan ombak perlawanan, sekalipun presidenpun akan kita gulung, kami akan patahkan lutut-lutut kalian yang semena-semana dengan rakyat, korupsi yang perlahan-lahan menggerogoti nafas rakyat harus dibumi hanguskan dari alam semesta ini.
Aku rindu persatuan dan sebenar-benarnya perdamaian di negeri ini.
Reaksi:
Berikan Reaksimu Tentang Artikel di Atas Dengan Men-Checklist Reaksi Ini

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »