Jodoh pasti dekat

Subhanallah,
Siang ini dengan meringis membaca chat barusan, lagi dan lagi saya bertemu seseorang yang ternyata kenalan jadul lagi. Cerita ini bermula setelah sempat membaca chat seorang yang meminta rekomendasi kontrakan murah daerah Gamping/ Godean di salah satu grup WhatsApp. Ya meskipun yang dimiliki hanyalah info kontrakan daerah Wirobrajan, dengan niat membantu saya japri dia. Saya mengatakan bahwa rumah kontrakan yang saya tawarkan itu bukan milik saya, melainkan ibu saya. Lalu saya berikan nama dan nomor telfon milik ibu saya.

"Ibu X yang rumahnya warna ijo bukan?" Tanyanya setelah mengetahui nama ibu saya.
"Tepatnya gerbangnya mbak..."

Kemudian kami tertawa bersama. Singkatnya, ternyata dia dulu pernah menjadi anak kost ibu saya. Dulu saat dia masih single. Sekarang setelah ia menikah, ia mencari kontrakan untuk keluarga kecilnya. Saya juga tidak ingat dia yang mana kalaupun memang benar pernah menjadi penghuni kost ibu saya waktu itu. Tapi senang saja, ternyata orang yang saya bantu, orang yang pernah kenal dengan ortu.

"Coba SMS ibu aja, mungkin dapat harga miring, karena mantan anak kostnya.."

Kami tertawa lagi.

(chatting berakhir)

~~~

Kemarin, saat saya melakukan aktifitas rutin kamisan di jakal, saya melihat hilir mudik para pelanggan pasar organik kamisan seperti biasa. Kemudian 2 wanita singgah di booth untuk bertanya tentang beberapa produk yang saya jual. Sekilas melihat wanita berumput keriting yang berdiri didepan saya ini tidak asing. Namun saya hanya bergeming. Setelah puas mendengar jawaban atas pertanyaan², mereka bergeser ke booth sebelah yang menjual aneka kue vegan. Sayapun kembali pada aktifitas saya. Tanpa disengaja saya mendengar sepenggal percakapan mereka. (Karena tiap² booth tidak ada sekat dan memang jarak begitu dekat. Ingat bukan menguping yang dijadikan niat).

"Gimana acara hari Senin kemarin? Lancar?" Kata si penjual roti.
"Lumayan, rame juga." Jawab wanita keriting kemudian.
"Coldplay sih temanya.. jadi rame."

Langsung saja saya memotong percakapan mereka, "oh... Pantas... Saya dari tadi mbatin, anda yang manggung di acara itukan?!" seru saya nyaris girang teringat sesuatu. (Saya tipe orang yang gemas sekali jika ada pikiran yang berkecamuk dalam angan dan jika sudah mendapat jawaban akan senang).

Wanita itu menoleh pada saya, seraya menyipitkan mata tanda mengingat apakah dia mengenal saya.

"Tidak, anda tidak mengenal saya mbak.. tapi saya melihat anda manggung kemarin." Setelah melihat ekspresinya. "Emang sering datang ke pasar Kamisan?"

Wanita berambut keriting itu kembali mendatangi booth Saya, "Kemarin sempat kesini, dan udah ke stan anda juga. Menarik. Sempet nanya² juga waktu itu. Nanya aja ahaha.." Jawabnya berbinar.

Kami seakan stuck sambil saling melempar senyum. Seakan ada ikatan tarik-menarik antara kami. Tapi entah, apa itu.

Saya melanjutkan, "Kemarin pas acara nyanyi...” tiba² muncul penyakit pikun saya. "Ah,"

"Up&Up!" Kami berseru bersama lanjut tertawa.

Setelah itu kami sempat berceloteh riang mengenai acara mingguan itu. Tentang asiknya acara terakhir. Dan tak sabar untuk Senin mendatang. Entah mengapa kami menjadi merasa akrab satu sama lain padahal sebelumnya belum pernah melakukan komunikasi selain sebatas penjual dengan pembeli. Sampai akhirnya...


"Kita belum saling mengenal."
Saya menyodorkan tangan lalu memperkenalkan nama. Ia menyambut dengan hangat.
"Gabby." Banyak kami tersenyum sampai gigi kami terlihat.
"Oke.." ujar saya setelah dirasa cukup lama gigi ini mulai mengering. "Sampai ketemu Senin depan."
"Off course!"

Kami saling melambai.

Siapa sangka, bertemu seseorang yang mempunyai hobi yang sama di tempat kerja? Yang insyaallah kelak jadi pelanggan saya :D
Ndilalah... (Kalau kata orang Jawa) kebetulan kalau kata kita, yah.. inilah ndilallah... (Baca bahasa Arab):/plesetan/

~~~

Sorenya, saya berkenalan dengan seseorang aktifis dakwah remaja yang ternyata juga satu grup chat pejuang dakwah yang lain dengan saya. Kami janjian bertemu di suatu pengajian. Saya menunggunya hampir ½ jam, karena ternyata dia belum datang dari jam kesepakatan. Tidak terasa lama karena saat saya menunggu sembari membaca buku yang sedang meroket kala itu. SMS masuk dari kenalan saya menginformasikan bahwa dirinya sudah di dalam masjid. Di dalam kami bertemu dan dengan renyah saling memperdalam perkenalan. Khutbah pun selesai, ia mulai penasaran dengan buku yang tadi saya cangking.

Ia asik membuka lembaran demi lembaran, "ini buku untuk kamu dek?" Katanya, karena memang saya lebih sedikit umur dibanding dengannya. Saya tidak menangkap apa maksudnya, karna saya sedang fokus pada resume khutbah yang belum terselesaikan. Saya hanya mengangguk. Sesaat ia seperti takjub.

"Penulisnya juga sekamunitas sama kita hlo mbak." Ujar saya setelah menyelesaikan resume.
"Nama yang ditulis pertama di covernya ini???" Lontarnya untuk menyakinkan dirinya sendiri. Saya mengangguk.
"Ya Allah... Dia dulu sempat ngechat gitu, ngobrol.. tapi sekarang lost contact. " katanya girang lalu kemudian sedikit menurunkan emosinya.
"Sekarang sedang di Bandung mbak, kerja."

Kami berlalu.

Tak disangka ternyata kita begitu didekatan dengan orang² yang dirasa jauh selama ini. Dengan orang² yang tidak pernah terfikir selama ini. Kita memang tidak 'kan pernah tahu siapa yang akan menjadi teman berbincang suatu saat nanti. Entah hanya sekedar teman lewat atau menjadi teman sejati kelak.

~~~

Saya tidak akan mengatakan sempitnya dunia ini karena mengetahui kita bertemu seorang yang ternyata dekat. Atau lebih tepatnya, didekatkan... Tidak.. dunia ini luas.. pernah menghitung berapa luas dunia? Berapa meter ? Pernah mencoba menjelajainya? Tidak, tentu tidak akan kau lakukan, karena tahu betapa lelahnya jika dilakukan saking luasnya.

Namun, seberapa luas dunia ini kalau ada campur tangan Tuhan di kehidupan ini, bagi-Nya mudah untuk membuatnya menjadi serpihan. Apalagi hanya mempertemukan satu insan dengan satu insan lainnya.

Begitu juga dalam cerita, saat kita sudah nyaman bekerja di sebuah perusahaan tertentu. Bahkan sedang ada tawaran kenaikan gaji bagi yang memperpanjang kontrak. Namun justru hati merasa ada yang mengganjal, karna merasa selama bekerja malah banyak melakukan mudarat seperti sering mengulur waktu sholat wajib bahkan sampai meninggalkannya. Tapi tetap memutuskan untuk hengkang berselimut berserah diri dan beharap mendapat yang lebih baik dari sebelumnya. Bimsalabim bukan sulap melainkan hubungan irama batin. Tak disangka justru tawaran kerja datang dari kerabat sendiri dengan jam kerja lebih sedikit dengan gaji yang fantastik.
Rahmat Allah...

Siapa yang tahu kejadian apa yang akan terjadi satu detikpun setelah ini? Kecuali ia cenayang yang pandai menebak atas izin-Nya. Kemudian muncul pertanyaan lagi, apakah kita termasuk salah satu dari segelintir cenayang itu???

Yang potensi kita lakukan ialah percaya bahwa apapun yang kita yakini jika itu terbaik menurut Allah pasti terjadi. Dan bersyukur.. selalu berterima kasih kepada Allah yang selalu memberikan kita sesuatu yang tidak terduga baik sadar maupun telat sadar.

Ketepatan dalam memilih fakultas saat kuliah, kecocokan dalam berelasi, bertemu dengan orang-orang bermanfaat yang selama ini tidak pernah duga.. ya.. semua patut kita sadari campur tangan Allah lah yang menjodohkan. Cerdik-cerdiklah tarik ulur penafsiran makna hidup ini. 😊

Jodoh pasti dekat, sedekat kita dengan-Nya.

KERF

Reaksi:
Berikan Reaksimu Tentang Artikel di Atas Dengan Men-Checklist Reaksi Ini

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »