18 Juni 1994 M - 18 Juni 2018 M

18 Juni 1994 M - 18 Juni 2018 M

18 Juni 1994 M - 18 Juni 2018 M ( 3 Syawwal 1439 H)
‌24 Tahun, bukanlah waktu yang lama dan baru, namun paling tidak sudah ada tanda-tanda banyak hal yang telah selama ini ku lakukan. Meskipun belum begitu ketara(Kelihatan) tentu dari lubuk terdalam saya ingin, memohon maaf sedalam lautan yang paling dalam, bila pernah tersakiti oleh tutur kataku, tingkah lakuku, ucapanku, dan bahkan ternodai karena diriku, aku hanyalah manusia biasa bukan keturunan Puntadewa. Raja. Brahmana dlll. Aku hanyalah Ahmad Zia Khakim, putra ibu Aminatun dan M. Ali Susanto yang di lahirkan di Bojonegoro,  warga negara biasa. Rakyat kecil yang Punya cita, punya angan besar untuk bermanfaat untuk Negaranya, bangsanya dan masyarakat nya, meskipun hanya hal- hal kecil, namun ingin selalu bermakna dengan adanya diriku di muka bumi ini, ingin ku buka lembaran baru di umurku ke 24 tahun  ini. Teruntuk dikau yang selalu mendoakan ku tanpa terlihat, kau yang selalu mensupport, kalian yang selalu ada tanpa terlihat, terimakasihku yang sangat amat mendalam, semoga kita semua dilimpahi berkah kehidupan. Dan senantiasa diberi ilmu yang bermanfaat dan barokah. Harapanku pada yang membaca tulisan ini, doakan diriku agar tetap senang berjuang, gemar dan ikhlas beramal. Lebih bermanfaat, selalu produktif berkarya, tambah amalannya, dan seterusnya hingga mampu berbakti pada orang tua, bangsanya, agama, dan masyarakat luas tanpa pandang suku, bangsa dan ras maupun golongan apapun.
Ahmad Zia Khakim, 24 Tahun Tahun Produktif.

Sejarah dan Polemik RIBA di Indonesia

Bank dengan praktek ribawi pertama di nusantara adalah De javasche Bank yg ada sejak tahun 1828.
Bank dengan praktek ribawi pertama di Indonesia (setelah merdeka) adalah Bank Surakarta Maskapai Adil Makmur (MAI) pada tahun 1945.

Koperasi dg praktek riba pertama di nusantara aja sejak tahun 1895.
Lembaga asuransi ribawi pertama di negri kita ada sejak 1845, dengan nama NILMIY, yg sekarang menjadi PT. Asuransi Jiwasraya.

Pegadaian, ada sejak 1746.

Kemudian, MUI baru mengeluarkan fatwa semua itu haram pada tahun 2004. Padahal MUI ada sejak 1975.

Padahal, persoalan riba dalam bank sudah mulai diperdebatkan sejak abad ke-19. Tapi MUI baru mengeluarkan fatwa haram pada abad ke-21.

Pertanyaan,

Bagaimana status pelaku riba yg sudah meninggal dan belum sempat bertaubat saat MUI belum mengeluarkan fatwa haram?

Saat ini, masih terjadi banyak perdebatan soal riba. Fatwa MUI masih terus diperbaharui. (5 fatwa baru soal bank syariah baru terbit pd tahun 2017).

Pertanyaan:

Masih mau berkutat pd hal tersebut atau memilih untuk berhati-hati dan menghindari hal itu saja?

Sampai saat ini, masih ada banyak perdebatan soal riba. MUI masih terus mengeluarkan fatwa baru. (th 2017 MUI mengeluarkan 5 fatwa baru soal bank syariah).

So?

”Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang” (Hadist ini Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi no:2451 , Ibnu Majah no: 4215, Baihaqi: 2/ 335)

Diriwayatkan pula bahwa pada suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang Taqwa. Ubai balik bertanya: ”Apakah kamu pernah melewati jalan yang banyak durinya?”
”Pernah” Jawab Umar.

Ubai bertanya kembali, ”Bagaimana ketika anda melewatinya?”

Umar menjawab, ”Saya bersungguh-sungguh serta berhati-hati sekali supaya tidak kena duri”.

Ubai akhirnya mengatakan, ”Itulah arti Taqwa yang sebenar-benarnya.”


Semoga puasa ramadhan kali ini benar2 dapat meningkatkan ketaqwaan kita. Aamiin...



Kejar Target Proyek Tol, Karyawan Beberkan Semuanya

Ikikaf bareng pegawai bintang 12, sub kontraktor Waskita yg menangani jalan tol Batang-Semarang. Dia cerita kalo lg dikejar target mudik lebaran jalan harus udh bisa dilewati pemudik. Kalo ada wartawan datang, jalan harus udah mulus semua. Itu instruksi langsung dari menteri.



Padahal, secara teori, tanah yg baru di Uruk harus didiamkan beberapa saat dulu, agar tanah stabil, baru di cor. Setelah di cor, dan kering, tidak boleh langsung dilewati, harus didiamkan beberapa saat dulu, biar semennya "matang".

Tapi semua itu diterabas, diabaikan, demi sebuah citra dihadapan manusia dan media.

Akibatnya apa?
Saat jalan baru itu dilalui pemudik nanti, pasti jalan akan langsung hancur kembali dg seketika. Kemudian, butuh anggaran lg buat memperbaikinya. (Seharusnya anggaran perbaikan ini tidak perlu ada jika mau bersabar menunggu tanah stabil, menunggu semen matang). Ini namanya mubadzir. Udah dananya dari hutang, pemanfaatannya tidak efisien hanya karena mementingkan pencitraan.

Wajar terjadi banyak kasus kecelakaan kerja, jembatan roboh, dll, di proyek infrastruktur kalo cara kerjanya kyk gini.


RESUME PENGAJIAN NUZULUL QURAN DI MASJID GEDHE YOGYAKARTA

*RESUME PENGAJIAN NUZULUL QURAN DI MASJID GEDHE YOGYAKARTA*

16 Ramadhan 1439 / 1 Juni 2018 *TAFSIR SURAT AR-RAHMAN* *AYAT 60* *Oleh KH. Anang Rikza Masyhadi, MA* هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ [سورة الرحمن 60] _"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula."_ (Qs. Ar-Rahman [55]: 60) Ayat ini merupakan janji dari Allah SWT bahwa setiap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan. Artinya, tidak mungkin Allah akan membalas perbuatan baik dengan keburukan. Jika Allah berjanji, Dia tidak akan mengingkarinya! _"innahu laa yukhliful mi'aad"_. Di dalam kenyataan sehari-hari, jika kita berbuat baik kepada orang lain, maka ada 4 kemungkinan balasan yang akan kita terima: 1. Dibalas lebih baik 2. Dibalas sama baiknya 3. Dibalas lebih buruk 4. Dibalas dengan pengkhianatan


Bagaimana sikap kita terhadap masing-masing kemungkinan itu? Jika kemungkinannya adalah nomor satu atau dua; dibalas lebih baik atau sama baiknya, mungkin tidak terlalu masalah. Bahkan, kita mungkin akan merasa senang karena kebaikan kita dibalas dengan lebih baik atau minimal sama. Bagaimana seandainya jika kebaikan kita dibalas lebih buruk atau malah dikhianati? Jika kita berbuat baik kepada, misalnya 1000 orang, yang 999 orang ternyata mengkhianati kebaikan kita itu, akankah esok hari kita masih semangat berbuat baik lagi? Atau, malah kita merasa kapok dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berbuat baik? Pertanyaan selanjutnya: sebetulnya untuk kepentingan siapakah kita berbuat kebaikan? Jika merujuk pada janji Allah pada ayat di atas: _"Tidak ada kebaikan kecuali balasannya kebaikan pula"_, maka sikap kita dipastikan akan positif. Bahkan, kita tidak akan peduli bagaimanapun dan apapun reaksi/ balasan orang lain terhadap kebaikan yang kita lakukan itu. Apakah kebaikan kita akan dibalas lebih baik, sama baiknya, atau lebih buruk dan bahkan pengkhianatan, sama sekali tidak berpengaruh pada komitmen kita pada kebaikan itu sendiri. 

Penjelasannya begini. Setiap kebaikan yang kita lakukan, pasti akan dicatat oleh malaikat, dan akan dibalas oleh Allah. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Allah akan membalas kebaikan tersebut, bahkan dengan balasan kebaikan yang berlipat lipat, dengan balasan kebaikan yang tidak kita sangka-sangka. Sebetulnya yang membelenggu adalah cara pandang kita yang keliru. Kita keliru apabila: 1. Menganggap bahwa jika berbuat baik kepada seseorang, katakanlah kepada si A, maka si A itulah yang harus membalas kebaikan kita. Ini keliru besar! 2. Menganggap bahwa jika melakukan kebaikan berupa sesuatu perbuatan, katakanlah kebaikan berupa B, maka balasannya harus berupa B. Ini pun keliru besar! 3. 

Menganggap bahwa kebaikan yang kita lakukan hari ini balasannya harus besok. Sebuah kekeliruan yang fatal. Ketiga hal di atas keliru besar. Sebab, bisa jadi kebaikan kita pada seseorang, balasannya melalui seseorang yang lain, bahkan mungkin melalui seseorang yang kita tidak mengenalnya sama sekali. Di sinilah Allah Bekerja dengan cara-Nya sendiri; melalui siapakah kebaikan kita itu akan dibalaskan. Bisa jadi pula, saat kita berbuat baik, misalnya dengan menolong menyeberangkan orang tua di jalan raya, balasannya tidak mesti bahwa kita akan diseberangkan orang. Jadi, apa bentuk balasan terhadap suatu kebaikan tidak selalu harus sama dengan kebaikan yang kita berikan. Di sinilah Allah Bekerja dengan caranya sendiri; Allah Maha Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita sehingga balasan kebaikannya bisa jadi berupa sesuatu yang kelak akan kita perlukan. Dan jangan pula merasa bahwa kebaikan kita belum dibalas. Bisa jadi, balasannya tidak langsung kita terima saat itu, dan bisa jadi pula balasannya akan dilimpahkan Allah kepada keluarga dan anak cucu kita. 

 Intinya, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan tidak mungkin akan hilang begitu saja; semuanya tercatat dengan teliti dalam perhitungan Allah SWT. Dan janganlah komitmen kita dalam berbuat baik dipengaruhi oleh sikap orang lain, sebab ini namanya pamrih. Perbuatan yang didasari karena pamrih seperti ini, maka putuslah keberkahannya. Maka, teruslah berbuat baik. Teruslah melakukan kebaikan-kebaikan. Jangan pernah bosan menjadi orang baik. Sebab, hakekatnya berbuat baik itu untuk dirinya sendiri. Oleh karenanya, Allah kembali menegaskan: إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا [سورة اﻹسراء 7] _Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri._ (Qs. Al-Isra [17]: 7) Gambaran penjelasannya kira-kira seperti ini: setiap kali kita berbuat baik seperti seseorang yang sedang menabung. Semakin banyak kebaikan yang dilakukannya, semakin banyak tabungan yang dihasilkannya. Jika seseorang rajin menabung sejak remaja, maka saat ia dewasa dan membutuhkan biaya untuk pernikahan, misalnya, maka ia pun tidak cemas karena bisa mengambil dari tabungannya. Karena tabungannya banyak, maka masih tersisa, dan saat ia membutuhkannya lagi untuk merintis modal usaha, maka ia pun masih bisa mengambilnya lagi dari tabungannya itu. Berbeda halnya jika seseorang tidak memiliki tabungan sama sekali. Jika memerlukan untuk sesuatu kebutuhan, apa yang akan diandalkannya sementara ia tidak memiliki tabungan? Demikianlah kebaikan itu seperti halnya tabungan. Setiap kebaikan yang kita lakukan hakekatnya adalah menambah saldo. 

Jadi, Maha Benar Allah dengan firman-Nya bahwa: 1. Tidak ada suatu kebaikan kecuali balasannya adalah kebaikan pula. (55:60) 2. Sebuah kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain hakekatnya kita sedang berbuat kebaikan untuk diri sendiri. (17:7) Berbuat baik adalah sebuah keharusan dan dalam rangka memenuhi perintah Allah. Sehingga, saat kita berbuat baik, fokusnya adalah kepada Allah, bukan kepada manusia! Jika fokus kepada Allah, maka kita akan yakin pada ayat 60 (surat Ar-Rahman) dan ayat 7 (Al-Isra). Dalam hal berbuat baik, maka rumusnya: 55:60 dan 17:7! Jika fokusnya pada manusia, maka kita akan mengalami kegelisahan dan keletihan hati. Saat kebaikannya tidak dibalas, atau dibalas lebih buruk, atau bahkan dikhianati, maka yang akan timbul adalah sakit hati dan dorongan untuk berhenti berbuat baik. Sementara saat kebaikan dibalas lebih baik lantas kita menjadi semangat berbuat kebaikan lagi. Jika demikian, maka fokus kebaikan kita bukanlah Allah, tapi manusia! Saat itulah amal kebaikan kita menjadi sia-sia. Lihatlah para nabi dan rasul, termasuk Rasulullah SAW. Kebaikannya tidak jarang dibalas dengan cacian, fitnah, dan ejekan. Tidak jarang Rasul malah diejek sebagai orang gila _(majnun)._ Jika kebaikan mereka fokusnya adalah manusia pastilah risalah dan dakwah mereka tidak akan sampai pada kita hari ini. Lihatlah pula para sahabat Nabi dan orang-orang saleh setelahnya sepanjang masa. Mereka terus menerus memproduksi dan menebar kebaikan di masyarakatnya, meskipun tidak jarang mereka mengalami pengkhianatan-pengkhianatan. 

Maka, ada sebuah ungkapan mengatakan bahwa ujian orang baik adalah kebaikanya sendiri, sebagaimana ujian orang saleh adalah kesalehannya sendiri. Ini tafsir untuk orang yang berbuat baik, dari sisi subyek (pelaku). InsyaAllah nanti saya akan kupas lagi tafsir ayat untuk orang yang dibaiki atau mendapat perlakuan baik dari orang lain, yaitu dari sisi obyek. Inilah salah satu cerminan akhlak Islam. Seorang muslim ibarat sebuah pabrik yang terus menerus memproduksi dan menebar kebaikan-kebaikan. Andaikata satu ayat ini saja (Ar-Rahman: 60) dapat dipahami dengan benar dan menjadi bagian dari akhlak setiap orang muslim, sungguh alangkah mempesonanya Islam dan kaum muslimin itu. Maka, ayat-ayat Al-Quran jangan sekedar dibaca berulang-ulang, tapi pahami dan amalkan dalam perilaku. Dan inilah dakwah kita yang sesungguhnya. _WalLaahu a'lam_ _WalLaahu Waliyyut-taufiq_. ditranskrip oleh: Affandi, S.Pd.I (Sekpim) *www.tazakka.or.id*

1 Juni 2018

Syukur tiada henti, rasanya ingin tersungkur ucapkan hamdalah, bahwa Milad kembali terselenggara, semua itu adalah manifestasi untuk agar kedepannya kita bisa berbuat lebih baik lagi !, lebih baik lagi dan terus berkelanjutan (Sustainable) hingga Ribuan dan jutaan tahun, bahkan abadi, 


Refleksi adalah upaya, agar kita semua "pandai menjadi hamba yang bersyukur !!

"(lain Syakartum, La azidannakum", tahu diri akan nikmat yang tiada tara, berlimpah ruah, yang telah Allah anugerahkan kepada kita, semoga bangsa kita, yang pada hari ini juga, senada dengan kita, memperingati dan merenungi kembali (Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah) (Negara Persaksian dan Kesaksian Konsesus Nasional) sebagai, spirit, nafas, Ruh, dan landasan filosofis Bernegara, 

Senafas dengan Milad PC IMM Ahmad Dahlan Surakarta yang Ke 2, semoga kita semua menjadi Generasi yang tidak hanya "penikmat" namun tetap berjuang hingga akhir hayat, demi Islam, bangsa, serta kemanusiaan universal dunia, selamat sekali lagi saya ucapkan. 

Mari BERGERAK!! Senafas dengan Nafas PANCASILA. Ingat Ahmad Dahlan !! ingat PANCASILA !!. Ingat INDONESIA !! (Jum,at 01 JUNI 2018 M) hari yang Mulia Rajanya Hari, 16 Romadhon 1439 H ( Rajanya Bulan), teruslah Berkarya !! tanpa kenal lelah dan Kalah !!, Siapa yang berjuang dialah yang akan Menang !!, Jaga terus martabat Organisasi, seperti kau Menjaga Martabat Bangsa, dan Negara, jangan lihat kau hari ini tapi lihatlah 5, 20, 30,1000, bahkan tak terukur waktu kelak kalian akan Rindu dalam berproses memajukan dan Meneguhkan diri !! 

Marilah sebar luaskan kesadaran kepada seluruh elemen masyarakat INDONESIA, bahwa Persoalan kebangsaan kita, didepan mata, masih sangat banyak bahkan berjibun, "Indonesia, Is Not Poor But Rich, Kita bukan bangsa yang Miskin !! Sekali lagi ku tegaskan, bukan Bangsa yang Miskin !! tapi kita Kaya Raya bahkan membuat "iri "bangsa - bangsa yang lain "baca: SDA" kita semua punya kesempatan yang sama untuk ikut andil membangun bangsa ini, dari kemiskinan hingga persoalan keadilan. Billahi fisabililhaq Fastabiqul Khoirot, Abadi Perjuangan!! Terimakasih Wassalamu'alaikum wr wb. 

By Ahmad Zia Khakim

Grab Bike, Gojek Jogja

Aktivitas Tiga Hari ini ditemani kemana-mana menggunakan Grab bike Dan Gojek Dari UII hingga Gembira loka 

Hatta Masjid gede dengan beragam driver Fenomena, Ada yang mahasiswa Ada juga yang Bapak-bapak tua. 


Selalu pertanyaan yang ku ajukan Hampir sama, sudah berapa lama? Full APA nyambi? Berapa putra-putrinya? Berapa pelanggan Hari ini? Aneka Ragam tanggapan hingga Hari ini yang membuatku terenyuh Yakni, jam 17.15 Aku menuju Masjid gedhe kauman ditemani bapak-bapak yang nota bennya seharian baru dapat Dua Pelanggan itupun Dengan Saya. Alias kamu mas. Saya nyambi kalau pagi di pasar. Bapaknya pun sempat bertutur Hampir putus asa karna Tak Ada Pelanggan lagi niat mau langsung pulang. Sebari membawa es degan, Dua. Akupun sempat di tawari. Waduh mboten Pak. Hatur nuwun sanget2. Sebari saya memberi bintang Lima Dan bergegas untuk mengambil takjilan. 

Seneng banget bisa buka bareng-bareng warga Yogyakarta. Ada juga driver yang mengeluhkan sepi. Karna pasca kejadian BOM Surabaya Dan Sidoarjo, Malioboro yang biasanya rame banget sekarang menjadi seperti kuburan. Entahlah mas. 

(Ahmad Zia Khakim, Yogyakarta, 20 Mei 2018)

Makna Puasa

Apa makna puasa bagi kau wahai para Pemuda/Pemudi, Muslim/muslimah?

1. Puasa itu menyehatkan. Iya, tetapi  bukan sekedar itu.
2. Puasa itu mengurangi konsumsi. Iya, tetapi bukan hanya sekedar urusan perut.
3. Puasa itu meredam Hawa  nafsu kekuasaan. Iya, tetapi mungkin saja, tapi juga bukan hanya hal itu.
Ketaatan adalah jalan yang bisa sama-sama upayakan untuk mendekati-Mu. Cinta-Mu lebih aku harapkan dari  sekedar sehat, uang ataupun kekuasaan, Kalaupun aku peroleh semuanya, itu hanyalah akibat (Dampak) semata. Kalaupun tidak, tidaklah mengapa. 

من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan cinta-Nya, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah berlalu"


Introspeksi-evaluasi-Mengarahkan diri pada Perubahan Revolusioner (1 Ramadhan 1439 H)  Usyikum Wa iya ya. Penulis merasa jauh Dari kata2 teladan.

Ahmad Zia 


Berdiskusi Dengan Naito Kandidat P.hD. asli Nagoya Jepang sedang Traveling di Yogya

(Berdiskusi Dengan Naito Kandidat P.hD. asli Nagoya Jepang sedang Traveling di Yogya)

sepanjang perjalanan menuju yogyakarta Saya duduk didepan mas-mas beliau pns di salah satu RSUD di sragen lalu di sampingnya Ada sosok bapak-bapak Saya sapa tenyata beliau sibuk Menulis Dengan huruf-huruf. Jepang

spontan Saya sentuh kakinya sambil saya Sapa. You Are Japanese People? Ya.. I come from Nagoya. Diskusi mengalir menggunakan bahasa inggris, Seputar dunia Destinasi wisata di Indonesia (Jogja/solo/malang/surabaya/NTB/Bali/Medan) dll Dsb bahkan Naito had Arrived Traveling 116 Country in This World Dan rata-rata Muslim Country,( telah mengunjungi 116 Negara)

Naito sempat mengeluh sebentar lagi Fasting time(Romadhon time) I will so feel very hungry and to eat Dificult ... My be if you stay at Bali it is izzi.. hehehe. So sambil Diskusi soal kejadin di Surabaya ternyata dia tahu.. bom Beem... It is Muslim Fanatic. So not good. Sambil saya membantah mereka bukan Muslim sejati. Yang melakukan pengeboman.



Sungguh keterlaluan (Saya juga sempat sindir soal Hiroshima Nagasaki)...Singkat Cerita ternyata dya juga Ambil Law adimistration. Sambil saya juga Menjelaskan karna dya bertanya posisi student saya, ambil jurusan apa? Saya jawab family law. (Use in English All Communication) Hingga menceritakan ketidak prospekan jepang soal bonus demografi karna kalangan tua yang dominant sedang yang muda Tak Ada.

Belum lagi perang ekonomi terjadi dimana Mana apalagi China, Indonesia is big uportunity for economic program China. Waduuuh...Saya sempat terkejut karna dya Punya Peta berbahasa jepang dengan Ragam indonesia. Sedang aku. Blom Tentu punya inilah kelemahan Kita yang musti Kita akui. Sayang ya..semoga Kita bisa bersaing sehat Dengan bangsa-bangsa yang lain.

Oleh Ahmad Zia Khakim, 15/05/2018

Dilan

(Dilan)  Damai di bulan Romadhon 1439 H Semoga Romadhon Kali ini bisa jadi Wahana untuk melatih jiwa Kita agar bersih Dan penuh ketakwaan, kerelaan atas penghambaan Kita sebagai umat manusia, 

jangan sampai Romadhon Kali ini yang sebentar lagi Akan Kita Hadapi Beberapa jam/detik lagi tanpa napak tilas Dan bekas sedikitpun, 

Kita harus memancangkan niat Dari sekarang, agar ketika kapal Berlabuh Kita siap Dengan mentally yang kokoh. 


Romadhon adalah rajanya bulan, Penuh ampunan, penuh rahmat, penuh maghfirah, menyambut nya Harus Dengan penuh kegembiraan Dan kesuka citaan.  

keceriaan yang Tak terhingga karna di izinkan kembali bertemu, semoga Kita senantiasa dicatat sebagai hamba yang pandai bersyukur dalam Romadhon tahun ini Dan tahun-tahun berikutnya semoga, 

oleh Ahmad Zia Khakim, 14/05/2018

Teror dan teror

"Teror dan teror" aksi biadap Tak layak hanya di kutuk Dan dikecam, karna ini lebih ngeri Dan Ganas, dibanding manusia Omnifora bahkan Pemakan manusia yakni "sumanto", 

andai pelaku di ketemukan Tentu layak di Bunuh ditempat, tanpa masuk proses-proses pengadilan, karna Keadilan pun tak terbayarkan hanya Dengan mekanisme Pengadilan, Nyawa. Dan keutuhan Bangsa Tak tergantikan. Miris melihat kejadian-kejadian yang Tak layak Ada di Bumi pertiwi ini, Kita sudah sepakat hidup damai, saling menghargai, lagi-lagi Penulis mengcalm ini adalah ulah oknum  yang Punya rencana Iblis yang ingin mematikan Dan mencabut ribuan nyawa-nyawa Tak berdosa dari tubuhnya Dan dibuat Remuk terpotong-potong tubuhnya. 


Mereka mendahului Malaikat Israil, Tak mungkin mereka manusia beragama, karena Penulis tahu semua agama mengajarkan hidup damai, penuh Harmonisasi, kalaupun mereka beragama pastikan mereka tidak paham  apa arti kedamaian Dan Toleransi Otentik, Sungguh tolong akhiri semua ini. Detik ini juga jangan sampai terjadi kembali di Bumi Indonesia.

#Pray Surabaya #saveSurabaya #save ibu kota Jatim 

(13/05/2018) 
Ahmad Zia Khakim